Pada puisi,
izinkan aku hanya menyinggung namamu.
sebab tak sanggup aku mengajakmu, tahta.
Pada puisi,
izinkan aku rebah didadamu.
melukis noda dan nada tertahan.
Pada puisi,
izinkan aku memelukmu.
mengulang hari yang tertinggal diranting dan dahan.
Pada puisi,
izinkan aku menciummu
memuntahkan darah dari gelab menyeruak.
izinkan aku menggenggam doa-doa kesetiaanmu
by :”losoy and angsperdoel”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar